Ibu

Di tengah langkahnya yang terburu-buru meninggalkan gedung pertemuan kampus A, ia masih sempat mendengar penjelasan dari moderator yang menyampaikan permohonan maaf atas kepergiannya yang mendesak.
“Mohon maaf kepada seluruh hadirin, peserta Seminar Nasional: Mewujudkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Solusi Problematika Bangsa’, atas dibatalkannya Dr. Aminullah, M.Pd sebagai salah satu pembicara karena ada kepentingan mendadak.”
Selain dirinya, ada dua pembicara yang diundang untuk memberi materi pada seminar tersebut, yakni Dr. Ahmad Musthofa Bisri, Ph.D. dan Prof. Dr. Sihabudin, MA. Dua orang yang terhitung lebih tua darinya, dan tentunya juga memiliki keilmuan yang tidak diragukan. Selama ini, keduanya pun sering tampil sebagai pembicara dalam acara yang berskala Internasional.
Satu minggu sebelum diselenggarakannya seminar ini, sebenarnya ia telah mempersiapkan materi sebaik mungkin. Maklum, sebagai pembicara termuda dan baru beberapa minggu menyandang gelar doktor, tentu ia tidak ia tidak ingin mengecewakan panitia dan peserta ketika diberi kesempatan untuk tampil bersama para senior. Namun, apa daya bila hal itu tidak terwujud karena ada keperluan penting yang tidak boleh ditinggalkannya, menemani istri tercinta yang sedang berjuang keras melahirkan buah hati pertama.
Berita tentang keberadaannya istrinya di rumah sakit disampaikan mertuanya melalui telepon saat ia hendak menuju ‘meja pembicara’. Dan tanpa pikir panjang, ia pun bergegas menemui panitia untuk mohon diri. Meskipun berat, tapi akhirnya panitia merelakan kepergiannya dengan pikiran tak menentu.
***
Atas izin dari dokter yang mengurus proses persalinan istrinya, ia pun diperbolehkan untuk berdiri di samping istrinya. Terlihat wajah sang istri yang dipenuhi butir-butir keringat. Jeritan keras menahan rasa sakit terdengar begitu mengundang iba. Seraya menggenggam telapak tangan kanan istrinya, ia membisiki kata-kata mesra.
“Dek, mas sayang adek. Mas cinta adek. I love u, Allah selalu bersama kita. Insyaallah adek kuat.”
Dalam kecemasan menemani perjuangan istrinya, tiba-tiba ia merasakan dadanya berdebar hebat. Air matanya perlahan-lahan menetes. Bibirnya tak henti-henti mengucap istighfar. Pikirannya melayang jauh, membayangkan peristiwa yang sama seperti yang kini sedang dialami istrinya. Peristiwa yang terjadi 31 tahun silam. Seorang wanita yang menjerit kesakitan demi kelahiran anak pertamanya yang di kemudian hari diberi nama A-m-i-n-u-ll-a-h.
Seperti inikah kepayahan yang dialami ibu ketika melahirkannya?. Ya Allah, air matanya terus menetes, berharap untuk dapat membalas semua yang diberikan ibu padanya. Tapi itu mustahil, karena kasih sayang ibu pada anaknya melebihi kasih sayang anak pada ibunya. Dulu, sewaktu kecil, ibu selalu sabar menghadapi kenakalannya, ibu selalu tulus menemani meski sering disakiti. Ibu tak pernah putus asa untuk mengajarinya hingga bisa bicara. Ibu yang ikhlas, ibu yang tak pernah mengeluh.
Kini, ia hanya bisa menyesali setiap kesalahan yang telah dilakukan terhadap ibunya. Ia hanya bisa merenung, menangis, meratapi hilangnya kesempatan untuk berada di dekat ibu. Semua berlangsung cepat, tanpa terduga. Waktu itu, senin 10 November 1995. Hari dimana ia wajib mengikuti upacara bendera di Sekolah Dasar Negeri 2 Tuban.
Ayo le, berangkat sekolah. Gak papa, kalo Cuma sekali ini saja. Ibu minta maaf karena belum mencuci bajumu. Kemarin ibu…”
Halah, alasan. Harusnya ibu dah siapkan seragamnya.”
Deg. Ucapan ibunya dipotong dengan nada ketus.
“Iya, ibu janji gak akan mengulanginya lagi. Ibu kemarin kecape’an.”

Usai berucap, ibu pun beranjak ke kamar mandi sembari membawa baju warna putih dan celana merah. Tapi karena pikirannya masih kalut atas kata-kata yang terlontar dari bibir anaknya, ia pun berjalan dengan langkah gontai hingga lupa pada lantai kamar mandi yang licin. Dan detik berikutnya, terjadilah peristiwa tragis. Seorang ibu meninggal seketika. Darah segar mengalir dari kepalanya, tanpa henti, tanpa ada yang menyelamatkannya.
*Diterbitkan pertama kali di Buletin Sastra Senja (Desember 2011)

Komentar