Pergi Haji

Pagi ini, jam dinding di ruang tamu masih menunjukkan pukul enam lebih delapan menit. Tapi siapa sangka kalau sepagi ini ternyata aku sudah kedatangan tamu ‘tak diundang’. Seorang pria berjubah, berkopiah putih dan berkalung tasbih. Karena aku mengikuti teladan Rasul tentang bagaimana caranya menghormati tamu, maka tanpa pikir panjang kupersilakan pria berjubah itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
Detik berikutnya, pria tersebut menyampaikan sesuatu yang tak terduga.
Haha, anda pasti heran dengan kedatangan saya kan?. Memang Pak Imron tidak mengenal saya, tapi saya sangat kenal dengan anda. Dan kedatangan saya kesini adalah untuk mengajak anda agar bisa menyempurnakan Rukun Islam.”
“Maksudnya?” tanyaku penasaran.
“Ya jelas untuk memastikan anda agar bisa dengan mudah menunaikan ibadah haji tanpa harus melakukan perjalanan panjang ke Masjidil Haram”.
Kata-katanya semakin membuatku tak paham.
“Anda tidak usah bingung Pak Imron, karena saya sudah melihat kalau anda punya potensi untuk itu. Anda punya rumah mewah, punya mobil yang bagus, dan tentunya memiliki penghasilan yang banyak dari berbagai usaha yang dimiliki. Dengan harta anda yang melimpah, itu sudah sangat cukup bagi anda untuk berhak mendapat gelar haji.” Lanjutnya.
Hemm.. orang ini semakin aneh saja. Gumamku
“Begini Pak Imron, ada sebuah kisah yang terjadi di zaman Sahabat mengenai ibadah haji. Ada sepasang suami istri yang sudah lama bermimpi untuk melaksanakan ibadah haji. Sejak lama mereka selalu menabung dari hasil berjualan di pasar. Setelah dirasa cukup, akhirnya mereka sepakat untuk berangkat menuju Tanah Suci. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Ketika mereka singgah di sebuah desa untuk membeli perbekalan makanan, justru mereka dihadapkan pada kondisi masyarakat yang begitu memprihatinkan. Penduduk di desa tersebut sedang mengalami kesulitan dalam hal makanan. Kebun-kebun mereka kering tanpa ada satu pun pohon buah. Mau membeli makanan di desa lain, tapi tak ada harta untuk membeli.” Sejenak ia menarik napas.
“Inilah yang kemudian mengurungkan niat sepasang suami istri ini untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci. Dan yang mereka lakukan adalah, segera pergi ke desa lain yang jaraknya puluhan kilometer dan menggunakan seluruh harta yang dibawa untuk ditukar dengan makanan. Semua makanan yang mereka peroleh kemudian diberikan seluruhnya kepada masyarakat di desa tersebut. Sehingga, suami istri itu pun tidak jadi melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci.”
“Tapi sungguh luar biasa sekali pak!”. Bicaranya kian bersemangat
“Meski mereka gagal menunaikan ibadah haji, tapi pada hakekatnya mereka telah melaksanakan ibadah tersebut dengan sempurna. Itu terbukti dari mimpi yang dialami oleh keduanya dalam waktu yang bersamaan. Mereka bermimpi telah mendatangi Masjidil Haram, shalat di depan ka’bah, mencium hajar aswad, melempar jumroh dan ritual haji lainnya. Awalnya mereka menganggap bahwa itu hanyalah angan-angan yang terbawa ke alam mimpi. Ternyata tidak!. Karena pagi harinya mereka kedatangan tamu, tiga orang pria dan lima orang wanita yang sengaja silaturahmi karena dulu pernah bertemu di mekkah dan berjanji suatu saat akan datang berkunjung. Subhanallah!.”
“Oh, maksud anda, meski suami istri itu tidak jadi berangkat ke mekkah, tetapi sejatinya mereka telah berada disana.” Selaku
“Ya, betul sekali Pak Imron. Dan kisah ini mengandung hikmah yang luar biasa buat kita. Karena terbukti bahwa pelaksanaan ibadah haji tidak harus berlangsung di Tanah Suci, tetapi ‘cukup’ dengan mengikhlaskan harta kita untuk membantu fakir miskin, maka kita berarti telah berhaji. Nah, tentunya agar Pak Imron lebih mudah menjalankannya, saya siap untuk membantu.”
Hemm… jadi begitu ya. Lantas, anda bisa membantu dalam hal apa?”
“Ya tentu saja membantu untuk penyaluran dana kepada para fakir miskin. Ingat Pak Imron, sekarang itu zamannya masyarakat instan. Maka kita jangan sampai ketinggalan, membuang-buang waktu yang sebenarnya bisa ditempuh melalui cara yang serba instan.”
Mendengar penjelasannya, aku hanya menganggukkan kepala. Memang sekarang ini kita telah dimanjakan dengan segala bentuk kemudahan alias serba instan. Ah, tapi apa iya, ritual haji yang agung itu juga bisa dibenarkan dengan pelaksanaannya yang instan?. Tiba-tiba aku teringat sebuah berita di surat kabar nasional yang memuat kisah seorang kakek penjual dawet. Karena keinginannya yang kuat untuk dapat pergi haji, ia rajin menabung setiap hari. Meski pendapatannya sedikit dan harus memenuhi kebutuhan keluarga (ia dan istrinya), tapi tetap mampu menyisihkan seribu rupiah. Dan akhirnya –mungkin karena ibadah shalat dan doa yang mustajab- ia bisa menunaikan ibadah haji, bahkan bersama istrinya.
Ia berusaha ikhlas ketika harus menerima kenyataan pahit atas ketiadaan buah hati. Ia pun ikhlas saat saudara-saudaranya yang bergelimang harta menjauhinya. Ternyata Allah menggantinya dengan kebahagian yang tak terkira, yakni mengabulkan cita-citanya agar bisa naik haji.
“Jadi, bagaimana pak?”
Aku terhenyak. Lamunanku buyar. Kemudian kukatakan saja padanya kalau nanti aku akan menghubunginya. Untuk saat ini aku belum bisa memutuskan.
“Ok, Pak Imron. Saya tunggu kabar dari anda.” Ucapnya, sembari menyerahkan kartu nama. Dan setengah berbisik ia mengatakan, kalau mendaftar sepuluh hari dari sekarang, maka ada bonus laptop keluaran terbaru.

Ah, tiba-tiba semua terasa gelap.
*Diterbitkan pertama kali di Buletin Sastra Senja (November 2011)

Komentar