Ali Akbar Navis

Ali Akbar Navis, sastrawan yang populer dengan karya monumentalnya; Robohnya Surau Kami (1956). Banyak para penikmat sastra yang menganalisis sisi religiusitas pada karya tersebut. Pilihan atas karya A.A. Navis yang dimuat dalam buletin Senja edisi ini juga sangatlah menarik untuk kita cermati. Terlebih, temanya sesuai dengan apa yang masih hangat dirasakan masyarakat Islam Indonesia. Momentum yang tepat untuk memaknai arti penting dari “Lebaran”.
“Tamu yang Datang di Hari Lebaran”, diawali dengan menggambarkan kondisi fisik sepasang suami-istri yang telah tua; Sepasang orangtua yang rambutnya telah memutih memandang dari ruang tamu ke jalan raya yang ramai oleh orang-orang berbaju indah-indah dan baru. Selanjutnya, A.A. Navis mengajak kita untuk melihat bagaimana keadaan Inyik Datuk Bijo Rajo dan istrinya, Encik Jurai Ameh saat lebaran tiba. Sebagai orangtua, Inyik dan Encik merindukan kedatangan enam anaknya beserta cucu-cucu untuk bisa berkumpul merayakan Idul Fitri bersama.
Entah sudah berapa tahun mereka tidak pulang. Setiap lebaran tiba, Encik merasakan luka hati yang kian dalam; “Setiap lebaran datang, luka hatiku kian dalam”. Encik meneruskan kegelisahannya; “Dulu, waktu ayahnya jadi gubernur, setiap lebaran mereka bisa berkumpul. Kata mereka, apa kata orang nanti bila mereka tidak lagi datang dengan lengkap. Mengapa? Sama seperti anak-buah Inyik dan pejabat lain. Kalau mereka tidak lagi datang, itu adat dunia masa kini”.
Fakta demikian telah lumrah terjadi. Ketika seseorang menyandang jabatan tinggi, banyak yang ingin mencuri perhatian. Datang beramai-ramai, memohon ampunan atas segala kekhilafan seraya mengakrabkan diri. Ya, dengan berusaha akrab, maka ada harapan atas “kemudahan-kemudahan” yang nanti akan didapat.
Tokoh Inyik adalah seorang gubernur yang tentu memiliki kekuasaan luas. Sebagian orang dibawahnya ingin ada kemudahan untuk naik pangkat. Para pengusaha mendekat agar Inyik selalu memudahkan urusan bisnis mereka. Pada masa tuanya, Inyik merasakan perubahan drastis. Ia benar-benar kesepian. Tidak ada yang datang kepadanya. Amanah itu telah “berlalu”. Inyik bukan lagi sosok yang “terpaksa” dihormati. Ia hanya mampu mengeluhkan keadaan. Mengapa “kehormatan” yang dibanggakannya dulu sama sekali tak tersisa?.
A.A. Navis begitu paham bagaimana menyentuh hati pembacanya. Ia mengerti betul tentang perasaan seorang pejabat yang pensiun dari singgasananya dan juga dijauhi anak-anaknya. “Pasrah”, itu yang mampu dilakukan saat fisik terus menua. Istri Inyik pun ikut mengeluh; “Alangkah anehnya hidup ini. Rasanya aku sudah mendidik anak-anak, supaya menjadi anak yang bersatu kukuh dalam persaudaraan serumpun. Tapi kenapa pada hari tua kita, mereka telah hidup menurut pikiran dan caranya masing-masing. Selagi aku masih hidup, mereka tidak lagi berpikiran sama seperti sebelum mereka menjadi apa-apa?. Apalagi bila aku sudah mati. Mungkin mereka akan bercerai-berai”.
Lebaran telah tiba, Inyik kian sedih karena satu-satunya tamu yang datang justru adalah malaikat yang “membawa” istrinya pergi jauh meninggalkannya. *(M.T auf iqbali)

Komentar