Catatan Kegembiraan Seorang Santri (3)

Mengaji al-Qur’an adalah inti dari seluruh aktifitas pembelajaran di PP. An Nur. Ada beragam pola yang diterapkan untuk bisa menghayati keberkahan al-Qur’an. Kita bisa merasakannya tahap demi tahap. Sebagaimana proses yang dijalani oleh santri baru.
Setiap santri baru diharuskan mengikuti marhalah (kelas/jenjang) binnadri terlebih dahulu. Pada tahap ini, para santri mengaji dengan metode tartil; membaca al-Qur’an secara perlahan dan penekanan terhadap makhroj (kejelasan huruf) serta memperhatikan tajwid (hukum bacaan).
***
Malam itu merupakan malam pertama saya di pesantren. Usai mengikuti sholat maghrib berjama’ah di musholla, semua santri binnadri kemudian beranjak ke aula lantai 3. Saya pun ikut serta (sesuai arahan dari pengurus). Sesampainya di aula, saya sempat bingung bukan kepalang (hehee). Tampak dihadapan saya puluhan santri yang duduk bersila dalam barisan memanjang ke belakang. Masing-masing santri khusyuk membaca al-Qur’an yang dipegangnya.
Berbeda dengan yang lain, santri di barisan paling depan meletakkan al-Qur’an diatas meja dan membacanya dihadapan seorang ustad. Ahaa, akhirnya saya paham kalau para santri sedang mengantri sampai nanti tiba gilirannya menyetor bacaan al-Qur’an yang disimak oleh ustad. Sembari mengantri, santri-santri mengulang bacaannya agar semakin lancar. Biasanya untuk sekali setoran (1 halaman) dibaca dua kali.
Ketika saya celingak-celinguk (nggak jelas), tiba-tiba ada suara memanggil “Bali, Bali… Kesini, mengaji dengan saya”. Reflek saya menoleh ke asal suara. Ternyata pak kyai Muslim. Saya segera mendekat dan duduk bersila dihadapan beliau. Saya benar-benar tersentuh karena sikap beliau yang meskipun sedang menyimak bacaan santri, tetapi menyempatkan untuk memperhatikan saya yang kebingungan. Mungkin juga beliau mengamati saya yang unyu-unyu ini layak diselamatkan dari kegalauan (hehee).
Singkat cerita, pak kyai Muslim menerangkan tentang darimana saya mesti mulai mengaji; diawali membaca surah Al-Fatihah, kemudian (karena santri baru) dilanjutkan surah Ad-Dhuha. “Bacalah dengan baik, jangan terburu-buru. Mengaji al-Qur’an harus sabar”. Begitu pesan beliau.
Apabila sudah lancar membaca Ad-Dhuha, lalu dihafalkan. Besok saat mengaji kembali, maka hafalan Ad-Dhuha disetorkan. Kalau hafalannya cukup bagus, baru bisa melanjutkan surah berikutnya. Membaca-menghafal, membaca-menghafal, demikianlah untuk tingkat pemula. Membaca dan menghafal dari Ad-Dhuha sampai An-Nas. *(Top'99)



Komentar